Kamis, 19 Juli 2012

Borneo

fenomena krisi bbm kita tahu di indonesia sudah sering terjadi. entah itu krisis karena memang stok dari pertamina  minim atau distribusinya yang seret atau malah yg kurang ajar karena permainan broker, calo atau apalah namanya yang menimbun bbm dan menjualnya bgt masyarakat sudah menjerit karena kesulitan mendapatkan bbm.

satu hari saat menjejakkan kaki untuk kedua kalinya di borneo, tepatnya di pelabuhan Bandarmasin aku mencari spbu untuk isi premium. saat itu lepas isya dan ketemu spbu 5 km selepas pelabuhan ke arah Mabuun Tanjung.

spbu nya masih buka dan hanya beberapa mobil dan motor yang kulihat mengisi dan antre. tak parahlah antreannya. masih wajar. kukira kalau melihat sepanjang jalan spbu selanjutnya sdh kosong dan tutup dan jejeran pengecer bbm disepanjang jalan yang kutemui ,ini adalah sebuah pengecualian. ataukah itu karena spbu ini baru saja selesai ngisi tangki nya?

yang jelas sepanjang kutemui spbu hingga Mabuun Tanjung fenomena antri sampai mobil menginap di areal spbu agar dapat urutan pertama saat mengisi adalah hal yang jamak kulihat.

ironis kan? propinsi yang kaya akan pertambangan dan sumber minyaknya justru mengaalami situasi begitu. spbu nya sebagian besar seperti pepatah ayam mati di lumbung padi. hehehe....

karena belum tahu situasinya begitu akhirnya aku hanya ngisi bensin 100 rb. dan itu hanya sekitar 22 liter. kata saudaraku yang kukabari  kl aku sdh di bandarmasin agar nge full kan tangki mobil karena perjalanan ke Mabuun lumayan jauh. sekitar 9-11 jam dengan kecepatan diatas rata rata.

akhirnya aku membeli bensin tambahan di jalanan. dapat 3 jerigen ukuran 5 literan dgn harga 7 ribu perliter! jadi bayangkan keuntungan mereka ?


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

tinggalkan jejakmu kawan. makasih ya sudah mampir....