Selasa, 20 September 2011

Tepi(an) Mahakam

sekalinya aku kemalaman di samarinda aku sempatkan menyusuri sepanjang tepi
sungai Mahakam dari lampu merah masjid raya hingga depan kantor gubernuran.
orang sini mengatakan Tepian. kata yang cukup sering kudengar digembar gemborkan oleh orang orang yang umumnya berkonotasi "duniawi".
lepas perempatan depan BRI baru terasa kebenaran ucapan ucapan di atas. jam
menunjuk angka 8 lewat. satu dua terlihat pasangan muda mudi duduk duduk tak
hirau suasana sekitar. sementara di trotoar dagang buah,entah jeruk,durian dan
semangka saling menyesaki trotoar yang sejatinya untuk pejalan kaki. ada juga
dagang helm dengan ragam dan warna helm dijejer memenuhi trotoar. makin ke barat
warung warung kagetan,biasanya menyediakan minuman entah seperti kopi dan
sejenisnya atau bentuk minuman kaleng entah yang bersoda atau beralkohol. dan
kalau sendirian tak perlu pusing menikmati kerlap kerlip lampu di samarinda ulu sana
karena setiap warung itu dipastikan ditongkrongin oleh dua tiga atau lebih gadis gadis
yang siap menemani anda. maksud menemani disini masih dalam tekanan antara
pembeli minum dan penjual. kalau toh anda karena tertarik dan ingin mengajak
mereka kemanapun mau anda,anda tinggal bernegosiasi saja saat itu. yah tentu anda
mengerti kan kemana arahnya? tapi aku sendiri terus melangkah. sesekali aku berhenti
sejenak melepas lelah sambil duduk di bangku bangku beton di taman. memandang
lepas ke sungai. ada kulihat kapal angkut batubara yang kelihatannya kosong.
warnannya merah berkarat dan legam. seperti seonggok besi tua yang mengapung
tenang. riak sungaipun cukup tenang.beberapa jenis ferry berseliweran juga satu
kulihat speedboat. diujung paling barat tampak menghitam melintang jembatan
Mahakam. memanjang dan melengkung. jembatan yang sangat vital sekali bagi lalu
lintas ke dan balikpapan dan tentu yang ingin ke kota Samarinda Ulu. islamic centre
tampak gelap gulita. tapi kekokohan tiang tiang menaranya masih jelas terlihat.
begitupun kubahnya yang bersemu hijau bersetrip emas di beberapa bagiannya juga
megah melengkung. pikirku alangkah bagusnya kalau malam gedung Islamic Centre
ini di beri penerangan artistis. aku jadi ingat kalau masuk ke hotel di bali. kalau
malam lampu lampu sorot jenis 'soft' diatur sedemikian rupa hingga menambah
keartistikan rupa gedung. melanjutkan perjalanan jam sudah hampir jam sepuluh
malam. gadis gadis penunggu warung tanpa basa basi memanggil manggil agar
mampir ke warungnya. ada satu dua yang kudengar panggilannya rada rada nakal. tapi
aku tersenyum saja sambil melambai. begitu kulihat gedung gubernur sudah dekat aku
mempercepat langkah. ada kulihat penjual jagung bakar dengan sepeda pancalnya.
aha.. ini dia,pikirku. akupun memesan 6 biji dan segera mencari teman yang janji
parkir tak jauh dari situ

smd,feb 09


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

tinggalkan jejakmu kawan. makasih ya sudah mampir....