Selasa, 20 September 2011

Orang Bali masuk Islam

Masih saja di jaman katanya canggih dan mengedepankan nalar dan pemikiran ilmiah ada orang orang(bali) yang tetap masih berpikiran seperti ditahun 80-an saat
pertamakali aku jadi mualaf.
Selepas jadi mualaf( pertengahan kls 3 SMA) sekitar 6 bulanan setelah itu aku punya takdir jadi perantau. Pertama kali yang kujelajahi adalah kota Kendari,Sulawesi
Tenggara. Sekitar dua tahun lebih tinggal disana dan aku berkesempatan bertemu dilokasi kerja dengan saudara saudara dari Bali.
Mereka ini adalah para transmigran yang sudah beranak pinak.
Namanya juga dirantau kalau kita ketemu orang yang satu daerah tentulah perasaan kita sedikit terhibur dan senang. Apalagi bagi tipe yang tak tahan lama lama
meninggalkan kampung halaman.
Nah pertama ketemu sambutan mereka wajar sebagai satu daerah yang sama sama
dirantau. Perbincanganpun lebih banyak tentang keingintahuan mereka akan bali dan
kehidupan warganya terkini. Pada akhirnya perbincangan akan berujung pada cerita
mereka dalam melaksanakan upacara sehari hari yang tentunya terbatas dibanding
saat di bali, dan kebanggaan mereka meski dalam suasana terbatas mampu
membangun sebuah ' pura'( baca; purè) untuk dipakai semmbahyang.
Aku biasanya hanya bisa menjawab dan mengangguk angguk mengerti.



Bila perbincangan berlanjut biasanya akan sampai pada keadaan dimana aku harus
terpaksa mengatakan bahwa aku sekarang tidak lagi ke pura tapi ke mesjid.
Efek dari keterus terangan ini biasanya mereka secara perlahan tapi pasti mulai
membuat jarak. Yang tadinya akrab berbincang dengan bahasa daerah maka
selanjutnya mereka akan menjawab dengan bahasa indonesia. Besok besoknya jangan harap mereka menyapa ramah. Pandangan mereka tidak lagi sehangat sebelum tahu kemuslimanku. Tidak di kendari,kolaka,bekasi,lombok,pada umumnya aku akan
mendapati tanggapan "nyama"( baca;nyamè,bhs bali) seperti itu.
Nah saat di kaltim pun aku ketemu dua orang,yang satu lelaki,ketemu di lokasi kerja dan satunya wanita karena tempat tinggal berdekatan.
Yang ketemu di lokasi kerja persis seperti cerita di atas.
Yang jadi tetangga itu lumayan masih ramah mau diajak bicara meskipun gak pernah lagi keluar bahasa balinya. Padahal aku selalu mancing duluan pakai bahasa daerah. Tapi mendinglah. Malah terakhir kami ngerujak( dia bikin dan aku ditawari) jambu air bersama rame rame dengan tetangga lainnya.
Oh ya lucunya setelah dia tahu aku muslim, dia malah tak yakin kalau aku ini orang bali asli. Katanya aku campuran. Ah ada ada saja.
Tak adilnya lagi dia sendiri suaminya keturunan tionghoa samarinda dan beragama
budha. Sedang dia dan anak anaknya,3 orang ce lkut hindhu. Nah apa mungkin karena itu atau karena umumnya wanita bali tak seekspresif lelakinya kalau ketemu kasus sepertiku,hingga dia masih bisa diajak bicara dan ramah? Wallahualam..

Smd,18/02/09


1 komentar:

  1. Tuntunlah dirimu ke dalam keyakinan yang memang menurutmu itu benar,baik dan suci. Karena apapun itu kalau kita yakin,tulus dan iklas semua pasti berjalan dengan baik. Tidak ada agama yang menjurus ke arah negatif dan tidak ada agama yang menuntut mu untuk menjadi pemeluknya.
    Eco cycling bali . And
    Bali rice trekking

    BalasHapus

tinggalkan jejakmu kawan. makasih ya sudah mampir....