Selasa, 20 September 2011

Oleh Oleh

Saat mau pulang dari kaltim aku sempat minta saran anak tentang oleh oleh yang
cocok untuk mbah akung dan mbah putrinya. Kalau untuk mbah akungnya anakku
seide untuk memberinya sebuah buku. Saat itu aku sudah berencana membelikannya
satu set buku hadistnya Imam Bukhari dan Imam Muslim. Ada juga kepikiran untuk
membelikannya karya Imam Gazhali yang termashyur,Ihya Ulumuddin. Buku ini ada
kulihat di Gramedia Mall Lembuswana. Tebal,besar dan 'lux hard cover'.
Kalau untuk mbah putrinya aku berencana membelikannya kerudung dan baju kebaya.
Tapi anakku bilang tak usah.
"kenapa nak?"
"soalnya mbah itu seleranya aneh. Nok saja tidak mengerti selera dan model kerudungnya yang disukai mbah. "
"terus sebaiknya apa dong?"
"kain saja pak. Kain yang khas kaltim. Mbah pasti suka." "oya satu lagi pak"
Apa itu?"
"mbah minta dicarikan lagi batu batuan seperti yang pernah dibawa pak de sebulan
lalu. Mbah minta dicarikan batu yang warna merah. Katanya mau dibuatkan cincin."
" pak denya bawa begitu banyak saat itu apa mbah gak kebagian?"
" dikasi sih tapi cuma satu yang menarik hatinya. Yang lain sudah jadi rebutan
bude,tante dan mbah lik. Enok juga hanya dapat satu untuk anting"jawabnya panjang
lebar
"ya sudah. Nanti bapak carikan yang bagus. Nok sendiri mau juga atau apa?"pancingku
"apa ya?"suaranya pelan seperti berpikir serius
"ayo apa?"tanyaku setelah menanti agak lama
"hmm...apa ya. Bingung jadinya pak"timpalnya
" ya sudah begini saja"kataku memutuskan
"nanti kita ke Semarang dan bapak kasih kamu uang untuk beli apa yang Nok mau." "ya deh pak. Begitu juga boleh,hi..hi"jawabnya nyengir
"Ya sudah kalau begitu. Pulsanya sudah mau habis. Salam mbah ya"kataku mengakhiri.
"Bapak!"serunya tiba tiba "ya nak "
"jacketnya jadi ya? Tapi jangan yang kulit. Enok gak suka. Warna biru. Batunya juga nok minta satu mau buat kalung. Yang agak besar dan warnya biru pak"
" ya,ya. Nanti bapak carikan".
" ada lagi?"
"ga ada pak. Tapi nanti kalau bapak sudah pulang kita jadi ke Semarang kan?" rayunya mengingatkan janjiku padanya.
" Ya iya anak bapaaak"jawabku menggeleng geleng.
Ah,siapa yang gak kalah kalau sudah anak yang minta? Asal kita mampu itu sudah kewajiban toh?hasil yang kita rasakan adalah kepuasan tersendiri yang tak bisa terkatakan dan tersiratkan. Apalagi kalau cuma anak satu satunya.

Smd,feb 09


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

tinggalkan jejakmu kawan. makasih ya sudah mampir....