Selasa, 20 September 2011

Ihya Ulumuddin

Tempo hari aku pernah berniat membelikan buku karya besar Imam Gazali pada
almarhum ayah. Judulnya Ihya Ulumudin. Tapi beliau keburu dipanggil menghadap Sang Khaliq. Akupun jadi melupakannya.
Nah satu hari saat waktu dzuhur aku pas di Samarinda. Tepatnya di jl Imam Bonjol.
Maka begitu selesai urusan disana akupun meluncur ke Masjid Raya. Mobil kuputar
lagi lewat Mulawarman dan terus lurus hingga pertigaan Mesra Mall,aku belok kiri.
Maka akan langsung ketemu jalan masuk ke mesjid yang satu arah. Langsung parkir
dan shalat berjamaah.
Kebiasaanku pula selesai shalat itu lihat lihat pedagang yang menggelar meja kecil di halaman masjid. Ada yang khusus peci dengari bermacam bentuk(kebanyakan buatan singapura,malaysia) segala jenis minyak wangi dengan merk merk yang sama persis dengan merk terkenal. Ada juga yang menghampar terpal dan menggelar dagangannya diatasnya.
Ada baju koko,sarung yang tentu saja dengan harga lebih
miring ketimbang di toko toko. Apalagi kalau kita pintar nawar harganya bisa jauh
berkurang. Masalah kwalitas tak jauh beda dengan yang di toko. Ada satu orang yang
rajin dan satu satunya menjual buku buku agama dan keagamaan. Paling sering aku
nongkrong disana.
Nah kok ya pas saat itu kulihat buku berjudul Ihya ulumudinnya Imam Ghazali,meski hanya ringkasannya. Bukunya sebesar buku tulis biasa tapi agak tebal dengan kertas koran yang agak halus. Kuperhatikan meski hanya ringkasan tapi kupikir semua bab dan sub bagian tercantum. Itu hanya taksiranku lho,karena aku sendiri tak tahu buku aslinya yang katanya berjilid jilid dan tebal itu ibarat kata adalah buku paling penting bagi kaum muslimin setelah Al-Qur'an dan As Sunnah.
Kucoba menawar hingga ketemu harga 40rb rupiah.
Sebetulnya aku juga sudah punya karangannya Imam Ghazali yang berjudul Samudra
Makrifat Cinta . Kesimpulan umum yang bisa kupetik adalah harus betul betul
konsentrasi membacanya. Dan itu tak cukup hanya sekali dua kali untuk bisa
memahami dan benar benar mengerti apa yang dimaksud. Dari pertama membaca
paragrafnya kita sudah berkerut dahi dengan begitu tingginya makna disetiap kata
yang dirangkai dengan kandungan filsafat dan syiar. Seakan akan dari kata pertama
sudah langsung,tanpa basa basi menjelaskan panjang lebar apa topik yang dijabarkan.
Banyak sekali kata kata bijaksana dan indah. Indah bukan tanpa isi tapi memang
indah dari susunan katanya,indah kandungan agamanya dan indah bahasanya.
Beberapa kalimat begitu puitis tapi tidak cengeng . Puitis penuh ajakan untuk
memuliakan agama. yah namanya kan arti harafiahnya memang begitu,memuliakan
agama. entah dengan mempelajari dan mengamalkan,menyebarkan/syiar dan
lainnya.Salah satunya dalam cara pandang hidup kita agar pada akhirnya kehidupan
kita di alam fana ini selalu sesuai dengan Qur'an dan hadist. Ah sebaiknya anda baca
saja dah bukunya. karena aku sdr masih nol kalau bicara tentang agama.

Smd,18/02/09


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

tinggalkan jejakmu kawan. makasih ya sudah mampir....